Kunci sukses itu ada tiga:
Yaqin, Ikhlas dan Syukur.
Tiga kondisi ruhani yang menghantar anda menuju sukses besar
(Syeikh Sholahuddin Abdul Jalil Mustaqin)
Kata sukses sering kali tercetak dalam budaya pandang hidup manusia, sebagai sukses dalam bidang usaha, sukses dalam perjuangan, sukses dalam mater, sukses dalam hal-hal duniawi. Bahkan ribuan judul buku bicara mengenai kiat sukses beredar, dari barat hingga timur dan jika disimpilkan semua mengarah pada motivasi dan spirit.
Sangat langka yang menggali kunci sukses yang sesungguhnya dari kedalaman spiritual, dan kalau pun ada, hanya dijadikan komplemen yang melengkapi semua motifasi itu. Karena yang terbayang tentang sukses adalah puncak-puncak kedudukan, bisnis-ekonomis, kekuasaan politis, puncak-puncak rohani sirna begitu saja.
Di berbagai belahan Barat modern, puncak sukses peradaban ekonomi, teknologi, dan politik, selalu diawali dengan eksplorasi kemampuan-kemampuan ego, individu dan eksistensi manusia. Namun pada sisi lain kegersangan dan keterasingan telah membelah puncak peradaban mereka dalam kenestapaan.
Ironisnya pula, ketika muka kita menengok ke wilayah dunia Islam, betapa banyak pula diantara ummat yang mulai kembali ke dunia ruhani melalui dunia sufi, akibat kegagalan atau pun faktor lain, hanya karena ingin kembali sukses duniawinya. Ini juga hal begitu memilukan, karena arus rohani yang begitu suci menuju kepada ALLAH, harus dikotori motif-motif duniawi.
Padahal duniawi memiliki alur dalam kinerja diri kita, dan ruhani juga punya alur tersendiri, yang dua-duanya tidak bisa dicampur aduk. Karena selain menimbulkan konflik dalam batin, juga akan menumbuhkan kemunafikan dalam diri kita.
Campur aduk yang dimaksud adalah keterlibatan nafsu yang menguasai qalbu kita untuk memutuskan pandangan hidup kedepan, lalu memunculkan sifat-sifat rakus, riya dan egois, kesombongan yang tersembunyi dibalik jubah agama, tampilan religius kita, bahkan ubudiyah kita.
Perspektif sukses dalam implementasi kunci-kunci sukses memang harus kita luruskan, agar akselerasinya (percepatannya) tidak terhambat oleh sejumlah faktor yang sesungguhnya tumbuh dalam diri kita.
karena itu jika syaikh Sholahuddin Abdul Jalil Mustaqim memberikan sebuah kata sukses, itu artinya juga harus kita lihat sebagai kunci terbalik, manakala kita ingin bangkrut dunia akhirat, ingin jatuh tersungkur secara lahir maupun batin, dengan cara memandang lawan kata dari sukses dan kunci-kuncinya.
Maknanya, jika kita ingin hancur dan gagal dunia akhirat maka:
- Biarkanlah sikap skeptis, ragu-ragu, penuh prasangka, kecurigaan, hidup di awang-awang, takut, khawatir, gelisah, menjadi gaya hidup spiritual dan tumbuh subur di dalam dada anda.
- Biarkanlah sikap-sikap riya, takjub pada diri sendiri, sombong, iri dengki, ambisi-ambisi dan tamak duniawi tumbuh jadi karater anda sehari-hari.
- Biarkanlah ruang dada anda diisi oleh sikap kufur pada nikmat ALLAH yang tak terhingga dan tak terhitung ini, sehingga dada anda semakin menyempit, sesak dan tersiksa oleh apriori-apriori terhadap nikmat ALLAH.
Bila tiga karakter inidi atas memenuhi diri anda maka suda dipastikan diri anda tidak lebih dari tong sampah dan tempat pembuangan limbah paling kotor di dunia ini. Jangan lagi ada mimpi tentang sukses yang sejati, sukses yang hakiki, sukses dunia akhirat. Lebih menakutkan lagi, mana kala anda terjepit ditong sampah paling pengap itu, justru anda memejamkan mata hati, lalu pulas dalam khayalan mimpi, seakan-akan demikianlah dalam tumpukan limbah itu anda merasa sukses.
inilah yang disebut dalam Al-Qur’an, “Orang-orang yang perjalanan hidupnya tersesat di kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa kondisi itu sebagai sukses terbaiknya.” (Al-Kahfi).
Jiwa besar, sukses besar dan pandangan besar telah digulirkan oleh para sufi besar yang kelak melahirkan manusia-manusia besar dalam sejarah agung manusia. Diantara kunci terbesar dalam meraih sukses besar itu ada tiga: Yaqin, Ikhlas dan Syukur.
Mengapa kuncinya hanya tiga perilaku tersebut? Bukankah masih banyak tema-tema spiritual-sufistik seperti sabar, qana’ah, ridha, tawakkal, taubat bahkan istiqamah?
Setelah kita teliti, ternyata tiga tema, Yaqin, Ikhlas dan Syukur tersebut merupakan sentra-sentra organik dari karakter-karakter sukses, dimana sifat-sifat mulia lainnya terorganisir dalam tiga tema utama tersebut.
1. YAQIN
Yakin itu sebagai lawan dari ragu-ragu, skeptik, hipokrit (munafik) dan angan-angan panjang yang tak berkesudahan. Memulai sesuatu haruslah dengan rasa yakin yang kuat, bukan yakin kepada kekuatan diri, rasa unggul diri, bukan! tetapi yaqin pada ALLAH Ta’ala.
2. IKHLAS
Ikhlas itu pekerjaan hati, bukan matematik pikiran. Hubungannya dengan niat, bahwa apapun yang anda lakukan semuanya demi untuk ALLAH Ta’ala. Bukan demi diri sendiri, atau keluarga, atau kelompok. Karena itu orang yang tidak ikhlas dalam berjuang dan bekerja, serta dalam ubudiyahnya, akan mendulang hal-hal yang negatif.
3. SYUKUR
Tidak ada rasa yang bisa meliputi sekucur tubuh kita, bahkan serasa semesta ikut menikmatinya, kecuali rasa syukur. Tetapi di dunia ini, kaum bersyukur masuk golongan minoritas, sampai ALLAH menyebutkan, ” Tetapi mayoritas manusia tidak bersyukur,” atau “Sedikit sekali kalian bersyukur.”
Filosofi Syukur di bawah ini bisa menghantarkan anda untuk tidak punya alasan lagi, untuk tidak kufur lagi, untuk tidak mengeluh lagi, untuk tidak membuka hati lagi.
Syukur itu adalah wahana yang mengembangkan wadah, bagi limpahan nikmat-nikmat ALLAH Ta’ala. Semakin bertambah sukurnya, semakin luas wadah bagi limpahan nikmat-Nya itu. Sedangkan Kufur nikmat (tidak bersyukur) berarti anda telah menutup dan menyempitkan wadah tersebut, lalu terasa sesak di dada, menyiksa jantung rohani anda, dan itulah siksaan pedihnya dunia, apa lagi kelak di akhirat.
Syukur adalah harapan abadi yang terus menanti di hadapan anda. Lalu tidak ada su’udzan kepada takdir ALLAH, apalagi sakit hati karena harapan telah membuka cakrawala positif tanpa henti. Peluang anda terbuka dimana-mana, tak henti-hentinya anda memuji-Nya, tak henti-hentnya ALLAH melimpahkan nikmat-Nya. Tak terdengan lagi aduh…keluh, sesal peluh, bahkan syukur anda bisa anda rasakan tidak sebanding dengan nikmat-Nya.
Bersyukur terhadap nikmat-nikmat ALLAH itun biasa, tetapi menjadi luar biasa kalau anda bisa bersyukur terhadap cobaan-cobaan ALLAH. Karena kepahitan dan kegetiran baginya adalah obat untuk kesehatan yang mulia. Sebagaimana seorang bersabar terhadap cobaan itu biasa, tetapi luar biasa kalau ia bisa bersabar terhadap nikmat-nikmat-Nya, karena bersabar pada nikmat berarti menghapus segala istidraj dan kealpaan diri.
Baca Selengkapnya...